Minggu, 30 April 2023
Cara Merawat Luka Parah Diabetes di Kaki Untuk Cegah Amputasi
Hal Penting Yang Perlu Dilakukan Untuk Merawat Lansia
Menurut Kementerian Kesehatan, golongan lanjut usia atau lansia adalah mereka yang berusia lebih 60 tahun ke atas. Lansia membutuhkan perhatian khusus, karena kemampuan fisik yang semakin lemah dan berbagai penyakit lansia yang mungkin diderita. Perawatan untuk lansia dapat lebih mudah selama Anda melakukannya dengan tepat. Berikut ini adalah beberapa hal yang penting untuk Anda perhatikan dalam merawat lansia.
. Memprioritaskan keamanan lansia
Dalam perawatan lansia, salah satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah keamanannya. Apalagi, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pertambahan usia memang membuat tubuh menjadi tidak sekuat dahulu. Hal ini membuat lansia lebih rentan jatuh. Untuk menghindari hal tersebut, lakukan modifikasi terhadap tempat tinggal lansia.
Sebagai contoh, mengatur tata letak perabotan dan benda-benda sekitar lansia dengan tepat, agar lansia lebih mudah bergerak atau berpindah tempat.
Pastikan barang-barang yang dibutuhkan dan digunakan sehari-hari mudah dijangkau oleh lansia untuk meminimalkan kemungkinan lansia hilang keseimbangan hingga terjatuh.
Perawatan lansia ini penting karena jika lansia terjatuh, bisa mengakibatkan kondisi yang fatal, misalnya patah tulang, gegar otak, dan kondisi serius lainnya. Oleh sebab itu, sebisa mungkin mengantisipasinya dengan menjaga agar lansia tetap aman.
Jumat, 28 April 2023
Lansia Dilindungi Oleh Pemerintah
Pada tahun 2018 jumlah lansia sekitar 24 juta orang, kurang lebih ada 2 juta lanjut usia berkategori bedridden (terbaring di tempat tidur). Berdasarkan Undang-undang No 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia terdapat hak-hak lanjut usia. Maka pemerintah melalui Kementerian Sosial RI hadir secara bertahap terus berupaya dalam mewujudkan Kesejahteraan Lanjut Usia.
Untuk mewujudkan #Lansia, pemerintah melaksanakan program rehabilitasi sosial lanjut usia untuk membantu lansia memulihkan dan mengembangkan fungsi sosialnya di antaranya melalui rehabilitasi sosial
Selain itu juga terdapat pendampingan lansia oleh pekerja sosial profesional dan atau tenaga kesejahteraan sosial dan atau relawan sosial #Lansia
Dukungan aksesibilitas lanjut usia dan dukungan teknis juga dilaksanakan melalui pemberian bantuan yang diberikan kepada lanjut usia miskin dan terlantar berupa makanan tambahan dan alat bantu yang berguna untuk menunjang kehidupan sehari-hari yg lebih layak.
Hasi ini, merupakan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2019 yang ke-23. Pada tahun 2018 jumlah lansia sekitar 24 juta orang, kurang lebih ada 2 juta lanjut usia berkategori bedridden (terbaring di tempat tidur). Berdasarkan Undang-Undang No 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia terdapat hak-hak lanjut usia. Maka Pemerintah hadir dalam hal ini Kementerian Sosial RI secara bertahap terus berupaya dalam mewujudkan Kesejahteraan Lanjut Usia.
Menurut Peraturan Presiden Nomo 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan, yang dimaksud dengan Lanjut Usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Proses penuaan akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik aspek sosial, ekonomi maupun aspek kesehatan
Selasa, 25 April 2023
Arti Tinggi dan Rendahnya Kadar Gula Darah
Kadar gula darah adalah banyaknya zat gula atau glukosa di dalam darah. Meskipun senantiasa mengalami perubahan, kadar gula darah perlu dijaga dalam batas normal agar tidak terjadi gangguan di dalam tubuh.
Kadar gula darah dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari makanan atau minuman, khususnya karbohidrat, serta jumlah insulin dan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin. Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Tinggi?
Kadar gula darah dikatakan terlalu tinggi jika melebihi 200 mg/dL. Istilah medis untuk kadar gula darah terlalu tinggi adalah hiperglikemia.
Hiperglikemia dapat terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas. Insulin berfungsi menyebarkan gula dari darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi.
Gula darah tinggi juga dapat terjadi bila sel-sel tubuh tidak sensitif terhadap insulin, sehingga gula dari darah tidak dapat masuk ke dalam sel untuk diproses.
Gula darah tinggi sering dialami oleh penderita diabetes yang tidak menjalani gaya hidup sehat, misalnya terlalu banyak makan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin. Selain itu, gula darah tinggi pada penderita diabetes juga dapat dipicu oleh stres, infeksi, atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Orang normal yang tidak menderita diabetes juga bisa terkena hiperglikemia, terutama jika sedang mengalami sakit berat. Tanda-tanda Anda memiliki kadar gula darah terlalu tinggi adalah badan terasa lelah, nafsu makan sangat tinggi, bobot tubuh berkurang, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.
Jika kadar gula darah mencapai 350 mg/dL atau lebih, gejala yang dapat muncul adalah sangat haus, penglihatan buram, pusing, gelisah, dan penurunan kesadaran. Di samping itu, kulit akan terlihat memerah, kering, dan terasa panas.
Apabila tidak segera ditangani, kadar gula darah yang terlalu tinggi bisa menimbulkan ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemi hiperosmolar, yang dapat berakibat fatal.
Selain itu, kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu lama tanpa pengobatan dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, serta penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Apa yang Terjadi jika Gula Darah Terlalu Rendah?
Gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini juga umum terjadi pada penderita diabetes, yaitu akibat efek samping obat antidiabetes yang dikonsumsinya. Obat antidiabetes, khususnya insulin, bisa menurunkan kadar gula darah secara berlebihan.
Penderita diabetes tipe 1 tidak memiliki hormon insulin dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, diperlukan tambahan insulin dari luar yang biasanya berupa suntikan. Namun jika dosisnya terlalu tinggi, insulin bisa membuat gula darah turun drastis.
Pada penderita diabetes, hipoglikemia dapat terjadi jika penggunaan insulin atau obat antidiabetes tidak diiringi oleh asupan makanan yang cukup. Olahraga yang berlebihan juga dapat memicu kondisi ini.
Bukan hanya penderita diabetes, orang yang tidak menderita diabetes pun bisa mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah. Beberapa penyebabnya adalah:
- Terlalu banyak minum minuman beralkohol.
- Menderita penyakit tertentu, seperti hepatitis, anoreksia nervosa, atau insulinoma.
- Kekurangan hormon tertentu.
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya quinine.
- Tanpa sengaja mengonsumsi obat antidiabetes milik orang lain.
Jika kadar gula darah rendah, tubuh akan terasa lemas dan tidak bertenaga. Gejala lain yang bisa Anda alami adalah lapar, keluar keringat dingin, kulit pucat, jantung berdebar, kesemutan di area mulut, gelisah, dan mudah marah.
Sedangkan gejala yang akan Anda alami ketika kadar gula darah terlalu rendah (di bawah 40 mg/dL), antara lain:
- Bicara melantur
- Sulit konsentrasi
- Tidak mampu berdiri atau berjalan
- Otot berkedut
- Kejang
Jika didiamkan, kondisi ini dapat menyebabkan stroke, koma, bahkan kematian.
Mari Cek Gula Darah Anda
Tes gula darah umumnya dianjurkan bagi orang yang memiliki gejala diabetes, seperti sering haus, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar. Selain itu, tes ini juga dapat dianjurkan bagi orang-orang yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.
Cara untuk mengetahui kadar gula darah adalah dengan melakukan tes darah. Tes ini berguna untuk memonitor kadar gula darah dalam tubuh Anda, agar tidak keluar dari batas normal.
Tes gula darah bisa dilakukan sendiri di rumah menggunakan alat glukometer. Sampel darah untuk pemeriksaan ini diambil dengan menusuk ujung jari menggunakan jarum khusus.
Anda juga bisa melakukan tes gula darah di rumah sakit. Ada beberapa jenis tes gula darah yang bisa dilakukan:
Tes gula darah puasa
Anda diharuskan puasa delapan jam sebelum pengambilan sampel darah. Tes ini sering dipakai untuk mendiagnosis kondisi pradiabetes dan penyakit diabetes.
Tes toleransi glukosa oral (TTGO)
Dalam tes ini Anda akan diberikan glukosa dalam jumlah tertentu, dan dua jam kemudian, kadar gula dalam darah Anda akan diperiksa.
Tes hemoglobin A1c (HbA1c) atau glikohemoglobin
Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah pada sel darah merah. Hasil tes HbA1c dapat memberi informasi mengenai kadar gula Anda selama 2-3 bulan terakhir.
Tes ini memudahkan dokter untuk menyesuaikan dosis dan jenis obat-obatan antidiabetes, jika diperlukan. Anda tidak perlu menjalani persiapan khusus untuk melakukan tes ini.
Tes gula darah sewaktu
Tes ini bisa dilakukan kapan saja dan tidak memerlukan persiapan khusus. Namun, pemeriksaan gula darah sewaktu tidak dapat digunakan untuk mendiagnosa diabetes.
Pemeriksaan ini hanya dipakai untuk memantau naik-turunnya gula darah pada penderita diabetes, atau untuk melihat kadar gula darah pada pasien dengan kondisi tertentu, misalnya lemas atau pingsan.
Jika hasil tes gula darah sewaktu Anda tinggi, belum tentu Anda menderita diabetes. Bisa jadi kondisi ini merupakan pengaruh dari makanan atau minuman yang baru saja Anda konsumsi.
Apabila hasil tes gula darah sewaktu Anda menunjukkan kadar yang rendah, namun Anda tidak merasa lemas atau pusing, kemungkinan ada kesalahan pada alat atau teknik pemeriksaan. Oleh karena itu, Anda perlu mendiskusikan kembali hasil pemeriksaan ini dengan dokter.
Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai tes apa yang cocok untuk Anda jalani. Tanyakan pula kepada dokter mengenai risiko atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan tes tersebut.
Lalu Berapa Kadar Gula Darah Normal?
Kadar gula darah normal tidak selalu sama, tergantung kapan tes dilakukan, setelah atau sebelum makan. Berikut ini adalah batasan kadar gula darah normal, namun memiliki patokan yang berbeda-beda.
Tes gula darah setelah makan
Jika tes gula darah dilakukan dua jam setelah makan, maka kadar gula darah normal adalah kurang dari 140 mg/dL atau 7.8 mmol/L. Batasan ini berlaku untuk orang berusia di bawah 50 tahun.
Bagi orang yang berusia 50-60 tahun, kadar normalnya adalah kurang dari 150 mg/dL atau 8.3 mmol/L. Sedangkan pada orang berusia 60 tahun ke atas, kadar gula darah normal adalah 160 mg/dL atau 8.9 mmol/L.
Tes gula darah setelah puasa
Jika tes gula darah dilakukan setelah puasa, maka kadar gula darah yang normal seharusnya kurang atau sama dengan 100 mg/dL atau 5.6 mmol/L.
Tes gula darah secara acak
Jika tes gula darah dilakukan secara acak (tes gula darah sewaktu), maka hasilnya tidak bisa disamakan, tergantung dari kapan tes dilakukan dan apa yang dikonsumsi sebelum tes.
Secara umum, kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dL atau 4.4-6.6 mmol/L, jika tes dilakukan sebelum makan atau setelah bangun tidur. Sedangkan jika tes dilakukan sebelum tidur, batasan normalnya adalah 100-140 mg/dL atau 5.5-7.7 mmol/L.
Tes hemoglobin untuk gula darah
Pada tes hemoglobin untuk gula darah (HbA1c), kadar normalnya adalah kurang dari atau sekitar 7 persen.
Namun perlu Anda ingat, batasan yang dipakai setiap laboratorium mungkin akan berbeda, tergantung alat yang digunakan. Jadi, gunakanlah patokan yang diberikan oleh laboratorim tempat Anda memeriksa gula darah.
Di samping itu, pastikan juga Anda mencatat tanggal tes dan hasilnya, serta apa saja yang Anda konsumsi dan aktivitas yang Anda lakukan sebelum menjalani tes tersebut.
Hasil pemeriksaan gula darah yang normal tidak selalu dapat menandakan bahwa Anda tidak berisiko menderita diabetes. Guna memastikannya, Anda tetap dianjurkan untuk mengonsultasikan hasil pemeriksaan gula darah Anda pada dokter, terlebih jika Anda mengalami gejala diabetes atau memiliki risiko untuk mengalami diabetes.
Pemeriksaan gula darah hendaknya dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Jalani pemeriksaan gula darah sesuai dengan saran dokter dan terapkanlah pola hidup sehat guna mencegah dampak buruk dari tinggi atau rendahnya kadar gula darah.
Alat Cek Gula Darah (Glukometer)
Pasien diabetes melitus pasti sudah akrab dengan alat cek gula darah. Pasalnya, alat ini sangat penting untuk memantau kadar glukosa darah Anda. Banyak jenis alat pengukur gula darah yang tersedia di pasaran. Lantas, mana yang terbaik? Jika Anda bingung, berikut adalah panduan untuk memilih alat cek gula darah dengan hasil paling akurat dan tentunya praktis digunakan.
Apa itu alat ukur gula darah?
Glukometer atau alat cek gula darah adalah perangkat digital yang berfungsi menghitung kadar glukosa di dalam darah. Bentuknya yang kecil dan mudah dibawa memungkinkan penggunanya membawa alat ini ke mana pun sehingga pemantauan kadar gula darah dapat terus dilakukan.
Pemeriksaan kadar gula darah secara menerus melalui glukometer membantu seseorang mengendalikan kadar gula darahnya agar selalu dalam batas gula darah normal atau rentang yang dianjurkan dokter. Menurut American Diabetes Association, pengukuran kadar gula darah secara rutin sangat penting dalam menentukan kesuksesan pengobatan diabetes melitus.
Naik dan turunnya kadar gula darah penderita diabetes dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pola makan, olahraga, obat-obatan seperti insulin, ataupun stres yang tidak terkelola dengan baik.
Penderita diabetes melitus (diabetesi) diharuskan memeriksa gula darahnya
beberapa kali dalam sehari. Oleh karena itu, diabetesi sebaiknya memang memiliki glukometer sendiri.
Bagi Anda yang sehat atau memiliki prediabetes, pengukuran dengan alat cek gula darah juga penting dilakukan untuk mewaspadai jika sewaktu-waktu kadar gula darah naik drastis (hiperglikemia) atau bahkan turun terlalu rendah (hipoglikemia).
Tanda dan Gejala Diabetes yang Penting untuk Kamu Ketahui
Diabetes adalah penyakit yang berbahaya dan mematikan. Data milik Kementerian Kesehatan yang diperoleh dari Sample Registration Survey 2014 menunjukkan diabetes menjadi penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke (21,1%), dan penyakit jantung koroner (12,9%).
Di Indonesia, prevalensi diabetes di Indonesia mengalami peningkatan dari 5,7% pada 2007 menjadi 6,9% atau sekitar 9,1 juta jiwa pada 2013. Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi sebanyak 10,3 juta jiwa.
Adapun tanda dan gejala penyakit diabetes adalah sebagai berikut:
Penurunan berat badan
Kadar gula darah terlalu tinggi juga bisa menyebabkan penurunan berat badan yang cepat. Karena hormon insulin tidak mendapatkan glukosa untuk sel, yang digunakan sebagai energi, tubuh memecah protein dari otot sebagai sumber alternatif bahan bakar.
Meningkatnya frekuensi buang air kecil
Karena sel-sel di tubuh tidak dapat menyerap glukosa, ginjal mencoba mengeluarkan glukosa sebanyak mungkin. Akibatnya, penderita jadi lebih sering kencing daripada orang normal dan mengeluarkan lebih dari 5 liter air kencing sehari. Ini berlanjut bahkan di malam hari. Penderita terbangun beberapa kali untuk buang air kecil.
Rasa haus berlebihan
Dengan hilangnya air dari tubuh karena sering buang air kecil, penderita merasa haus dan butuhkan banyak air. Rasa haus yang berlebihan berarti tubuh Anda mencoba mengisi kembali cairan yang hilang itu. Sering ‘pipis‘ dan rasa haus berlebihan merupakan beberapa cara tubuh Anda untuk mencoba mengelola gula darah tinggi.
Kelaparan
Rasa lapar yang berlebihan, merupakan tanda diabetes lainnya. Ketika kadar gula darah merosot, tubuh mengira belum diberi makan dan lebih menginginkan glukosa yang dibutuhkan sel.
Kulit jadi bermasalah
Kulit gatal, mungkin akibat kulit kering seringkali bisa menjadi tanda peringatan diabetes, seperti juga kondisi kulit lainnya, misalnya kulit jadi gelap di sekitar daerah leher atau ketiak.
Penyembuhan lambat
Infeksi, luka, dan memar yang tidak sembuh dengan cepat merupakan tanda diabetes lainnya. Hal ini biasanya terjadi karena pembuluh darah mengalami kerusakan akibat glukosa dalam jumlah berlebihan yang mengelilingi pembuluh darah dan arteri.
Diabetes mengurangi efisiensi sel progenitor endotel atau EPC, yang melakukan perjalanan ke lokasi cedera dan membantu pembuluh darah sembuhkan luka.
Infeksi jamur
Diabetes dianggap sebagai keadaan imunosupresi. Hal itu berarti meningkatkan kerentanan terhadap berbagai infeksi, meskipun yang paling umum adalah candida dan infeksi jamur lainnya. Jamur dan bakteri tumbuh subur di lingkungan yang kaya akan gula.
Iritasi genital
Kandungan glukosa yang tinggi dalam urin membuat daerah genital jadi seperti sariawan dan akibatnya menyebabkan pembengkakan dan gatal.
Keletihan dan mudah tersinggung
Ketika orang memiliki kadar gula darah tinggi, mereka kerap merasa tak enak badan. Bangun untuk pergi ke kamar mandi beberapa kali di malam hari membuat orang lelah. Akibatnya, bila lelah orang cenderung mudah tersinggung.
Pandangan yang kabur
Penglihatan kabur atau atau sesekali melihat kilatan cahaya merupakan akibat langsung kadar gula darah tinggi. Membiarkan gula darah Anda tidak terkendali dalam waktu lama bisa menyebabkan kerusakan permanen, bahkan mungkin kebutaan.
Pembuluh darah di retina menjadi lemah setelah bertahun-tahun mengalami hiper glikemia dan mikro-aneurisma, yang melepaskan protein berlemak yang disebut eksudat.
Kesemutan atau mati rasa
Kesemutan dan mati rasa di tangan dan kaki, bersamaan dengan rasa sakit yang membakar atau bengkak, adalah tanda bahwa saraf sedang dirusak oleh diabetes. Masih seperti penglihatan, jika kadar gula darah dibiarkan merajalela terlalu lama, kerusakan saraf bisa menjadi permanen.
Pada diabetes, gula darah yang tinggi bertindak bagaikan racun. Diabetes sering disebut ‘Silent Killer’ jika gejalanya terabaikan dan ditemukan sudah terjadi komplikasi. Jika Anda memiliki gejala ini, segera tes gula darah atau berkonsultasi ke petugas kesehatan.
.
Sumber: P2PTM Kemkes RI







.png)
.png)







