Senin, 03 Juli 2023

Hati- hati bagi lembaga sosial/pendidikan yang mengumpulkan sumbangan/donasi agar terhindar pidana (2)

 Untuk melakukan pengumpulan sumbangan, yayasan harus memiliki izin pengumpulan sumbangan/izin pengumpulan uang atau barang (“PUB”). Selain itu, terdapat batasan persentase penggunaan hasil pengumpulan sumbangan oleh penyelenggara. Jika penyelenggara melanggar ketentuan Permensos 8/2021 dan peraturan perundang-undangan terkait, maka izin PUB dapat dicabut.


Terkait dengan pencabutan izin yayasan, apabila yayasan terbukti melakukan penyelewengan dana, maka dapat dijadikan alasan permohonan pembubaran yayasan ke pengadilan.

Berikut mengenali isii permensos 8/2021

https://www.regulasip.id/book/18321/read

Demikian artikel ini semoga menjadikan pencerahan apabila akan membuat yayasan atau lembaga sosial dengan pengumpulan sumbangan kepada masyarakat sehingga dapat mencapai tujuan dengan aman.

Share:

Hati- hati bagi lembaga sosial/pendidikan yang mengumpulkan sumbangan/donasi agar terhindar pidana

Sudah banyak contoh kasus bagi lembaga/yayasan sosial dalam pengumpulan donasi yang terjerat dengan tindak pidana. Untuk itu hendaknya para pengelola lembaga/yayasan sosial dapat memahami dengan baik mengenai permensos 8/2021.

Untuk itu agar dapat terhindar dari penyalah gunaan perlu adanya pencatatan keuangan yang baik, benar dan transparan.

Share:

Selasa, 06 Juni 2023

Mana Yang Lebih baik Makan 2 Atau 3 kali Sehari?

 



Orang Indonesia mempunyai kebiasaan umumnya makan 3 kali sehari. Makan dengan pola tersebut diyakini bisa mencegah gangguan lambung atau pencernaan lainnya. Namun, apakah pola makan tersebut adalah yang paling baik untuk kesehatan?

Menurut ahli diet Jansen Ongko, pola makan tiga kali sehari sebetulnya bukan satu-satunya cara menciptakan hidup sehat. Frekuensi makan bisa kurang atau lebih dari 3 kali sehari asal mencukupi kebutuhan nutrisi setiap hari.

Kecukupan gizi inilah yang menjaga tubuh dan fungsi pencernaan tetap sehat.
Mau makan 2 atau 3 kali sehari sebetulnya bisa tetap sehat asal bisa mencukupi kebutuhan harian. Karena itu kita perlu lihat lagi porsi, komposisi, dan keseimbangan asupan saat makan. Makan 3 kali sehari sebetulnya kebiasaan saja, bukan pola makan yang baku.

Makanan Sehat dan Bergizi

Makan 2 kali sehari tidak ada masalah asal memenuhi kriteria standar makan sehat atau bergizi.

Kriteria makanan sehat dan bergizi yaitu makanan yang memiliki nilai gizi seimbang dan mengandung nilai gizi esensial tubuh seperti vitamin, mineral, karbohidrat, protein, lemak,kalsium, serat dan air. 

Sementara berdasarkan National Health Service di Inggris, laki-laki disarankan mengonsumsi 2500 kalori dan wanita 2000 kalori.


Share:

Minggu, 04 Juni 2023

Diabetes atau penyakit kencing manis tidak menular

 



Diabetes melitus dan kencing manis bukan merupakan penyakit menular dan tentu bukan penyakit kanker atau keganasan. Namun diabetes dapat menimbulkan komplikasi yang beragam, hal itu disebabkan efek gula darah yang tinggi dalam darah dapat merusak sel-sel pada dinding pembuluh darah.

Akibat dari kerusakan pembuluh darah itu dapat menyebabkan gangguan fungsi/kerja dari jantung, ginjal, otak, liver, lambung, dan juga dapat beresiko menimbulkan luka yang sulit sembuh/memborok.

Diabetes adalah penyakit kronis yang dapat mengenai siapa saja. Setiap pasien diabetes yang sering tidak terkontrol gula darahnya beresiko dua kali lipat mengalami komplikasi baik pada pembuluh darahnya, jantung dan ginjal. Bahkan dapat beresiko terkena stroke.

Bagaimana agar terhindar dari komplikasi yang berat?

Kontrol secara rutin, agar dapat terdeteksi lebih dini, misalkan ditemukan tanda komplikasinya

Minum obat/insulin secara teratur sesuai anjuran dokter

Menjaga gaya hidup sehat, mulai dari pola makan yang dijaga, olahraga teratur dan sesuai kemampuan, manajemen stress/emosi, istirahat yang cukup

Mengecek gula darah secara mandiri (bila dimungkinkan) secara berkala mengikuti anjuran dokter, agar terhindar dari komplikasi hipoglikemia (gula darah turun drastis) atau komplikasi krisis hiperglikemia (saat gula darah terlalu tinggi)


Share:

Selasa, 30 Mei 2023

Kesendirian di masa senja

 


Bagi anda yang peduli terhadap kaum lansia, mereka membutuhkan uluran tangan anda kunjungi 

https://www.facebook.com/100086764665740/posts/pfbid02ZhUzQ8nX9W2VgzoKAyhooVX5VWuCtrEW9gCzxqrY12Tk156jPg8AUq6e3xGGanLGl/?app=fbl

Share:

Rabu, 10 Mei 2023

Layanan Atensi Lansia

 





JAKARTA (29 Mei 2021) - Indonesia termasuk negara yang akan memasuki era penduduk menua ( aging population ) sejalan dengan jumlah lanjut usia (lansia) yang hampir mencapai 10 %. Di lain pihak, populasi lansia dalam kategori tidak mampu juga cukup besar.

 

Secara natural, lansia merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia dan ditandai oleh gagalnya seorang untuk mempertahankan keseimbangan kesehatan dan kondisi stres fisiologisnya. Lansia juga berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup dan kepekaan secara individual.

 

Menteri Sosial Tri Rismaharini menyatakan, secara umum lansia mengalami disfungsi sosial di antaranya berhadapan dengan masalah kesehatan, serta rentan dari perilaku atau tindak kekerasan di masyarakat. Saat ini cukup banyak lansia yang sukses, sehat dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga.

 

“Namun tidak sedikit yang mengalami kehidupan yang berat dan sulit di masa tuanya karena hidup miskin, ditelantarkan dan hidup sendiri. Untuk itulah Kementerian Sosial hadir memberi dukungan, layanan dan program untuk mewujudkan lansia yang bahagia di hari tua,” kata Mensos terkait dengan peringatan Hari Lanjut Usia (HLUN) 2021 di Jakarta (28/05/21).

 

Mengutip data Susesnas pada Maret 2020, jumlah warga lanjut usia di Indonesia mencapai 9,92% (26,82 juta jiwa). Sementara, berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tahun 2019, diketahui ada sebanyak 12.990.568 jiwa lansia tidak mampu. Kemudian juga didapat sebanyak 6.703.616 lansia dalam kondisi bedridden. Lansia di dalam keluarga (10,7 juta), di luar keluarga (1,9 juta), dan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) sebanyak 1,1 juta.

 

Untuk memastikan hak-hak lansia terpenuhi, Kementerian Sosial menghadirkan Program Atensi (Asistensi Rehabilitasi Sosial bagi Lanjut Usia). Di antara layanan Atensi adalah dukungan pemenuhan hidup layak; Dukungan keluarga; Terapi (fisik, psikososial, dan terapi mental spiritual); Pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; bantuan sosial dan asistensi sosial; dan dukungan aksesibilitas.

 

Selain kepada lansia, Kementerian Sosial juga melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya untuk membantu dan menolong orang lain khususnya lansia. Dirjen Rehabilitasi Sosial Harry Hikmat menyatakan, di antara kebijakan Kemensos adalah dengan pengembangan Sentra Kreasi Atensi (SKA) sebagai wadah pemberdayaan bagi lansia dan kelompok rentan lainnya untuk berkreasi, berkarya sehingga dapat hidup mandiri dan akhirnya bisa mengangkat derajat hidupnya.

 

“Kemensos juga membantu lansia mendapatkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di Balai-Balai Kementerian Sosial agar terpenuhi Hak Sipilnya sehingga dapat mengakses berbagai layanan dan program pemerintah,” katanya.

 

Melakukan perbaikan DTKS termasuk lanjut usia. “Agar semua lansia miskin yang tinggal sendiri maupun yang tinggal dalam keluarga tercatat dan mendapatkan akses terhadap program bantuan sosial seperti PKH, BPNT dan Atensi,” katanya.

 

Kemensos juga melakukan layanan penjangkauan kepada lansia dalam situasi darurat seperti korban bencana, penelantaran, kekerasan dan berbagai kasus yang mengancam kehidupan lansia.

 

Harry menambahkan, penanganan lansia di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang sangat kompleks serta bervariasi. Perlu strategi dan cara khusus untuk diselesaikan secara bersama-sama oleh seluruh unsur baik pemerintah, masyarakat, maupun lembaga sosial.

 

“Faktanya impian tersebut diatas hingga saat ini belum terwujud karena masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda sehingga muncul berbagai macam perspektif,” katanya.

 

Biro Hubungan Masyarakat

Kementerian Sosial RI

Share:

Sabtu, 06 Mei 2023

Cara Menggunakan Tensimeter Manual Dengan Benar


Panduan menggunakan tensimeter digital ini sangat penting bagi pemula.
Share:

Rabu, 03 Mei 2023

Setiap Lansia Perlu Menjalani Rehabilitasi Medik secara berkala

 





Seiring bertambahnya usia, setiap orang akan menghadapi perubahan 

kondisi fisik dan emosional yang berdampak terhadap kehidupannya. 

Penurunan fungsi tubuh, penyakit yang tidak kunjung sembuh, hingga 

gangguan mental akibat perubahan yang begitu cepat hanyalah segelintir 

contohnya. 


Di sinilah peran rehabilitasi medik bagi lansia dibutuhkan.

Rehabilitasi medik bermanfaat agar lansia mampu hidup mandiri tanpa 

harus selalu bergantung pada orang lain. Dengan cara ini, para lansia 

dapat menikmati masa senjanya dengan kehidupan yang berkualitas.

Jika manfaatnya sedemikian besar, lantas apakah orang lanjut usia 

yang tidak sakit juga perlu menjalani rehabilitasi medik?

Tujuan rehabilitasi medik untuk lansia

Tujuan rehabilitasi medik bukanlah untuk menyembuhkan, melainkan 

untuk memulihkan peran pasien sebagai manusia yang utuh dengan 

cara mengatasi gangguan kesehatan yang ia alami. 

Dengan begitu, ia dapat kembali menjalani hidupnya secara normal.

Prinsip yang sama berlaku pada rehabilitasi medik untuk lansia. 

Lansia amat rentan mengalami gangguan kesehatan, sebut saja masalah 

pendengaran, kurang gizi, hingga depresi. Lansia juga rentan cedera 

karena mereka mudah lupa dan terjatuh.

Rehabilitasi medik bertujuan untuk menangani masalah tersebut. 

Sebagai contoh, jika pasien lansia mengalami gangguan 

keseimbangan dan cara berjalan, tujuan rehabilitasi adalah melatih 

koordinasi tubuh pasien sehingga ia bisa berjalan atau berpindah 

posisi dengan risiko jatuh yang lebih kecil.

Sementara pada lansia yang memiliki gangguan pendengaran, tujuan 

rehabilitasinya tentu berbeda. Rehabilitasi bertujuan untuk memulihkan 

atau setidaknya mencegah gangguan pendengaran bertambah parah agar 

pasien bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.


Apa yang dilakukan lansia di fasilitas rehabilitasi medik?

Fasilitas rehabilitasi menyediakan layanan perawatan dan/atau 
pemulihan bagi lansia yang sakit, mengalami cedera, ataupun memiliki 
kecacatan. Pasien fasilitas rehabilitasi biasanya merupakan lansia yang 
mendapatkan rujukan dari rumah sakit.
Ada beragam petugas yang menangani pasien lansia di pusat 
rehabilitasi, antara lain perawat, terapis fisik, ahli pendengaran, 
serta tenaga medis lainnya sesuai kebutuhan. Mereka dipimpin oleh 
seorang dokter yang berkedudukan sebagai direktur medis.
Pasien di pusat rehabilitasi menjalani perawatan sesuai riwayat medisnya. 
Beberapa kondisi mungkin membutuhkan penanganan medis seperti 
pemberian antibiotik, suntik, dan lain-lain. Perawatan bisa bersifat jangka 
pendek atau jangka panjang, tergantung kondisi pasien.
Meski bervariasi, seluruh rangkaian rehabilitasi medik pada lansia tentunya 
tidak dapat dilakukan secara cepat. Proses ini membutuhkan waktu, 
dan umumnya dilaksanakan dalam tiga langkah sebagai berikut:
  1. Menangani gangguan kesehatan utama (misalnya masalah 
        pendengaran atau demensia) dan menjaga kondisi pasien tetap stabil.
    2. Mencegah komplikasi lanjut seperti kurang gizi, depresi, penurunan 
        kemampuan berpikir, dan sebagainya.
    3. Mengembalikan fungsi dan kemampuan yang sempat hilang akibat 
        keterbatasan fisik.
Selama rehabilitasi medik berjalan, terapis pun bertanggung jawab 
melakukan sejumlah upaya pencegahan. Upaya pencegahan yang 
dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pencegahan primer

Terapis bertanggung jawab melakukan pencegahan primer, 

yakni menjaga lansia sehat agar tidak sakit ataupun mengalami 

impairment. Impairment adalah penurunan struktur atau fungsi tubuh 

yang membuat pasien kesulitan menjalani kegiatan sehari-hari.

2. Pencegahan sekunder

Pada pencegahan sekunder, lansia yang sakit atau sudah mengalami impairment 
perlu menjalani perawatan agar tidak mengalami disabilitas. Jika pasien 
mengalami disabilitas, ia akan kesulitan melakukan kegiatan yang seharusnya 
mudah bagi lansia sekalipun.

3. Pencegahan tersier

Apabila pasien sudah sakit, mengalami impairment, apalagi memiliki 
disabilitas, terapis perlu melakukan upaya pencegahan tersier. Upaya ini 
bertujuan supaya lansia yang mengalami disabilitas tidak sampai 
menderita kecacatan.

Apakah setiap lansia perlu menjalani rehabilitasi medik?

Rehabilitasi secara umum ditujukan pada orang-orang yang pernah mengalami 
cedera atau sakit sehingga fungsi tubuhnya terganggu. Akan tetapi, bagi mereka 
yang berusia lanjut, rehabilitasi medik memiliki manfaat yang lebih besar lagi.
Rehabilitasi medik tidak hanya ditujukan bagi lansia yang sakit, tapi juga lansia 
sehat yang perlu memantau kesehatannya. Cepat atau lambat, mereka akan 
membutuhkan rehabilitasi untuk mengurangi risiko impairment, disabilitas, 
dan kecacatan.
Pemeriksaan selama rehabilitasi juga berguna untuk mendeteksi masalah 
kesehatan, penyakit, serta penurunan fungsi fisik maupun psikologis. Pastikan lansia 
yang tinggal bersama Anda memperoleh akses rehabilitasi medik agar mereka 
dapat menikmati masa senja yang lebih berkualitas.

Share:

Tindakan Pencegahan dan Cara mengobati Kaki Diabetes




Diabetes mellitus atau sering disebut penyakit gula / kencing manis adalah penyakit kronis yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa (gula) dalam darah. Penyakit ini dapat menyerang berbagai
golongan usia serta menimbulkan banyak komplikasi pada berbagai organ, tak terkecuali pada
bagian kaki. Maka dari itu ada istilah yang kita kenal dengan kaki diabetes.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 di Indonesia terjadi peningkatan prevalensi
penderita kaki diabetes menjadi sebesar 15%. Bahkan sepertiga di antaranya harus dilakukan amputasi.

Bagaimana bisa terbentuk kaki diabetes?

Pada kondisi dengan gula darah yang tak terkontrol dapat memicu adanya gangguan pada
sirkulasi darah, sehingga aliran darah menuju kaki pun kurang lancar. Di samping itu, kerusakan
saraf juga terjadi yang mengakibatkan kaki menjadi mati rasa. Sehingga dengan kondisi tersebut
menyebabkan terbentuknya luka pada kaki yang sulit sembuh.
Kaki diabetes (ulkus diabetikum) merupakan komplikasi penyakit diabetes melitus yang
ditandai dengan terbentuknya luka terbuka pada kulit disebabkan gangguan aliran darah dan persarafan.
Luka pada kaki diabetes biasanya paling umum terjadi di bawah jempol kaki atau pada telapak
kaki. Bila kondisinya berlanjut parah, luka tersebut bisa mengenai hingga ke tulang.

Apa ciri-ciri penyakit gula (diabetes) pada kaki?

Tanda awal yang patut dicurigai adalah keluarnya cairan dari kaki yang mungkin membentuk
noda pada kaos kaki. Gejala lain yang harus diwaspadai adalah adanya kaki bengkak yang tidak
biasa, iritasi, kemerahan, hingga bau pada satu atau kedua kaki.
Pada kondisi yang lebih serius, tanda yang bisa dinilai adalah terlihatnya jaringan berwarna
hitam di sekitar luka. Jaringan berwarna kehitaman ini, atau disebut gangren, diakibatkan
karena hilangnya aliran darah pada area tersebut. Gangren menimbulkan adanya infeksi
serta dapat mengeluarkan bau, menimbulkan rasa nyeri, hingga menjadikan mati rasa.
Gejala diabetes pada kaki tidak selalu jelas. Terkadang, pada sebagian pasien tidak
merasakan gejala apapun hingga luka pada kaki tersebut mengalami infeksi.
Bagaimana cara mencegah munculnya kaki diabetes
pada pasien diabetes?
Hal utama yang perlu dilakukan adalah pemantauan gula darah secara cermat.
Kemungkinan komplikasi diabetes akan rendah selama kadar glukosa dalam batas yang normal.
Selain itu, pasien dengan diabetes mellitus sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kaki
secara mandiri setiap hari. Berikut langkah-langkah yang dapat kamu lakukan di rumah:

1. Periksa Kaki

Lakukan pemeriksaan bagian kaki secara menyeluruh dimulai dari bagian atas, samping,
telapak kaki, tumit, hingga ke sela-sela jari kaki. Bila kesulitan untuk melakukan pemeriksaan
sendiri, dapat menggunakan bantuan cermin atau minta bantuan orang lain. Segera bawa
ke dokter bila terdapat adanya lecet, luka, kemerahan, atau memar.

2. Cuci Kaki

Pencucian kaki dilakukan setiap hari menggunakan air hangat dan sabun lembut.
Lakukan pemeriksaan terlebih dahulu suhu air menggunakan siku, karena penggunaan
air yang terlalu panas dan sabun yang keras justru akan merusak kulit. Pada kaki pasien
diabetes mungkin akan kesulitan merasakan sensasi suhu air secara akurat, sehingga 
diperlukan bantuan siku.

3. Keringkan kaki 

Gunakan handuk kering dan bersih untuk mengeringkan kaki. Pastikan seluruh bagian kaki 
hingga sela jari dalam kondisi kering karena infeksi cenderung muncul pada area yang basah.

4. Gunakan pelembab pada kaki yang terlalu kering

Bila kulit kaki terasa kasar atau kering, kamu bisa mengoleskan lotion atau minyak.
Perlu diingat bahwa sebaiknya tidak menggunakan lotion di antara jari-jari kaki
Di sisi lain, perawatan kuku juga merupakan hal yang tak kalah penting untuk dilakukan. 
Pemotongan kuku yang baik akan menghindarkan dari terbentuknya luka dan rasa sakit pada kaki.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan:
  • Lakukan pemotongan kuku setelah mencuci kaki, baiknya pada  saat kuku masih lunak
  • Potong kuku secara lurus, tidak melengkung. Hal ini untuk mencegah pertumbuhan kuku masuk ke dalam kulit ujung jari
  • Tidak perlu memotong kuku hingga ke bagian pojok
  • Haluskan bagian permukaan ujung kuku
  • Berhati-hati agar tidak memotong kuku terlalu pendek
  • Bila kamu tidak dapat melihat secara jelas, kuku terlalu tebal atau menguning, minta bantuan orang lain untuk melakukan pemotongan kuku dengan cara yang sesuai
Salah satu komplikasi yang umum terjadi pada pasien diabetes adalah neuropati (kerusakan saraf).
Neuropati pada diabetes biasanya muncul dengan manifestasi gejala penurunan sensasi pada kaki.
Kepekaan kaki untuk dapat merasakan adanya luka atau benjolan cenderung buruk, sehingga
terkadang hal itu terabaikan. Perlindungan kaki menggunakan sepatu yang agak longgar dan
penggunaan kaos kaki juga penting dilakukan. 

Lalu bagaimana cara mengobati kaki diabetes?

Kunci pengobatan pada pasien dengan kaki diabetes adalah dengan pengaturan pola hidup sehat.
Melalui pola hidup yang sehat dengan konsumsi makanan tinggi serat, rutin berolahraga, serta kombinasi
obat-obatan yang diresepkan, diharapkan akan mampu menurunkan kadar glukosa dalam tubuh.
Sebagaimana kita telah ketahui bersama, bahwa kadar gula darah memegang peran utama dalam
terbentuknya komplikasi ini. Sehingga bila nilai glukosa dalam batas yang normal akan membantu 
mempercepat proses penyembuhan luka. Tentunya pengontrolan kadar glukosa juga akan membantu
mencegah komplikasi diabetes pada organ lain seperti mata atau ginjal.
Selain modifikasi gaya hidup, perawatan luka biasanya akan dilakukan oleh dokter yang meliputi:

1. Penghilangan jaringan mati

Tindakan penghilangan jaringan mati pada kulit disebut dengan debridemen.
Tujuan penghilangan jaringan mati adalah untuk membuat luka bersih sehingga pertumbuhan jaringan baru lebih maksimal.

2. Penutupan luka 

Penutupan luka diperlukan untuk mencegah adanya infeksi yang masuk. 
Biasanya dilakukan penutupan luka menggunakan perban. Agar mendapatkan hasil yang baik, 
pembalutan luka menggunakan perban ini harus dilakukan secara rutin.

3. Pemberian obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan biasanya berupa antibiotik sebagai pencegahan infeksi. Selain itu, obat antidiabetes juga akan diresepkan untuk menurunkan glukosa darah

Apa yang terjadi bila kaki diabetes tidak diobati?

Luka pada kaki diabetes yang tidak dilakukan perawatan dan penurunan kadar gula darah 
dapat mencetuskan sumber infeksi bagi tubuh. Kuman penyebab infeksi yang muncul dapat 
merusak jaringan sehat dan menyebabkan kulit menjadi hitam (gangren). Bila gangren sudah 
terbentuk maka tindakan yang bisa diambil adalah dengan melakukan amputasi hingga 
bagian kaki tertentu yang mengalami kerusakan. Kecacatan dan kematian juga merupakan 
komplikasi serius dari ulkus diabetikum yang tidak diobati.
Wah, ternyata cukup berbahaya juga ya salah satu komplikasi dari penyakit diabetes ini. 
Sebenarnya dengan deteksi dini dan pencegahan yang tepat akan dapat meminimalkan 
resiko luka. Oleh karena itu, yuk bersama-sama lakukan monitor gula darah dan pemeriksaan
kaki secara berkala!
Share:

Profil

ksn

kasianiaku.blogspot.com

Testimoni

Video

Tik Tok

Labels